Jumat, 31 Agustus 2012

Wordplay


Memiliki
Kata yang terbiasa hadir dalam hidup
Membahasakan tentang apa yang ada dalam genggaman

Pernahkah benar tersadar
Tentang sesuatu yang benar dimiliki
Tentang sesuatu yang memang ada dalam genggaman

Apakah itu nyawa?
Tentu itu milik-Nya
Apakah itu rumah?
Tentu itu hanya bangunan sementara di atas lahan negara
Apakah itu pakaian? Atau mungkin makanan?
Tentu kita tidak memilikinya
karena lagi – lagi mereka adalah hal yang diperoleh dari orang lain

lantas apakah yang benar menjadi milik kita?
Apakah rahasia?
Semua tahu, bahwa rahasia selalu akan bocor
Bahkan hingga yang paling rahasia sekalipun
Atau mungkin cinta?
Tentu saja … Cinta itu milik kita
Tetapi tunggu dulu, bukankah katanya Cinta tidak memiliki?
Kalau begitu apa yang kita miliki?

Ternyata jawabnya hanya
Yaitu kata..
dan tindakan
Inilah satu – satunya hal yang kita miliki

Semua insani dapat mengolah dan mengelolanya
Dan bagaimana kau mempergunakannya
Yang akan menjadi definisi manusia lain
Terhadap keadaan dirimu

Apa yang cari dalam hidup ini?


Apa yang cari dalam hidup ini? Harta berlimpah, kekuasaan tak terbatas, ataupun wanita cantik yang mengelilingi dan menghiasi hari – hari? Sesungguhnya, semua yang telah disebutkan adalah hal yang bersifat material, hal yang tidak bersifat kekal, dan yang terutama, hal yang akan hilang, musnah tak berbekas seiring berjalannya waktu.

Dalam hidup ini ternyata ada satu hal yang tak lekang dimakan jaman, yang ternyata mampu memberikan kebahagiaan yang kekal. Hal ini sesungguhnya telah ada sejak masa lampau, namun sering kali setiap orang terlambat menyadarinya, atau bahkan tak tersadarkan akan keberadaannya.

Demikian pula dengan diri ini, terlambat menyadari bahwa hal itu adalah cinta. Diri ini terlambat untuk menyadari bahwa cinta itu adalah hal yang memberikan kebahagiaan dalam hidup hingga kemudian ketika sadar, cinta itu telah pergi meninggalkan diri. Diri ini terlalu sombong dan terlalu percaya diri sehingga menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas dasar usaha sendiri, karena dirinya memang membutuhkan diri ini dan yakin sekali bahwa tanpa diri ini, dirinya tidak akan berarti.

Diri ini lupa, kesombongan hanya akan mendatangkan kegagalan dan tidak akan memberikan kesuksesan, apalagi kepercayaan. Diri ini lupa, bahwa yang menjadikan semuanya yang mustahil menjadi masuk akal dan bahkan kenyataan adalah sesuatu yang disebut sebagai cinta. Diri ini pun akhirnya menjadi lemah dan tak berdaya tanpa keberadaan cinta tersebut, dan berusaha menggapai apapun yang sebelumnya begitu yakin digenggam.

Seperti apakah cinta? Siapakah cinta? Yang paling sederhana, cinta itu adalah guci porcelain dalam perangkat rumah. Untuk memperolehnya, harganya sangat tinggi, namun karena karena materialnya begitu halus, perawatannya pun harus sangat berhati – hati karena kelalaian sedikit akan mengakibatkan pecahnya guci porcelain tersebut dan pecahan – pecahan tersebut tidak akan memberikan nilai yang sama apabila berusaha untuk direkatkan kembali.

Lagipula, tidak semua rumah memiliki cukup ruang untuk memiliki guci dari porcelain dalam suatu ukuran yang sama atau serupa. Tiap rumah akan memiliki ukuran tersendiri sesuai dengan kemampuan. Apakah ukuran kemampuan tersebut? Ada banyak hal, dari yang paling sederhana seperti kerendahan hati hingga yang paling sukar, kepercayaan.

Sekarang semua tulisan diri ini menjadi sia-sia karena guci porcelain yang telah menjadi pecahan tersebut bahkan tidak dapat disatukan kembali. Banyak pecahan yang hilang, dan banyak ukuran yang tidak lagi mendukung. Salahlah diri ini karena mengawali segalanya dengan kepercayaan diri berlebih. Salahlah diri ini karena percaya bahwa segala usaha adalah mungkin karena diri sendiri. Yang paling fatal, salahlah diri ini karena membuat suatu keyakinan bahwa diri ini adalah bagian mutlak tak terpisahkan dari dirinya.

Penyesalan memang datang terlambat dan kadang sukar terucap maupun terbersit ketika berpikir.

Setelah pacaran, siap menikah?


... Bunga (nama samaran) sedang berbahagia setelah Jaka menembaknya semalam. “Inilah mimpi menjadi kenyataan. Jaka itu pria idaman wanita, mapan, tampan, dan memiliki simpanan”, Bunga berbincang dalam hati tentang betapa beruntungnya dia. Singkat cerita, setelah beberapa puluh kali mereka pergi berdua di akhir pecan, akhirnya Jaka melamar Bunga dan meminta dia untuk menikahinya. Sontak, seluruh keluarga larut dalam kebahagiaan. Wanita dalam keluarga mereka akan menikah dengan seorang pria idaman yang mendekati sempurna. Dan kemudian pernikahan itu berlangsung dengan diiringi kebahagiaan kedua insan dan keluarga besar...
(Itu adalah akhir dari seluruh kisah baik novel, film fiksi, maupun film kartun di dunia ini tentang bagaimana kisah hidup seorang wanita)
... Jaka ternyata adalah seorang pemalas dan berjiwa kerdil. Ia tidak pernah mau mengerjakan seluruh urusan rumah tangga. Pun bila Bunga salah, ia tidak segan untuk memarahinya seakan – akan dunia mau runtuh nanti jam 4 sore.  Upik Abu yang menjadi seorang Putri untuk beberapa tahun tersebut mendapati bahwa dirinya kembali menjadi Upik Abu hanya saja dalam balutan gaun yang mewah.  Ia kehilangan gairah hidupnya, dan hingga suatu saat karena didorong rasa frustasi, akhirnya mengajukan tuntutan perceraian kepada Jaka. Bunga seakan terbangun dari sebuah mimpi aneh membuat dia memandang sang calon mantan bukan lagi sebagai pria idaman, melainkan pria ampasan ...

Cerita itu memang hanya fiksi tetapi juga dapat menggambarkan hubungan berpasangan di Jakarta. Kisah tentang lelaki dan wanita yang dimabuk asmara memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke pelaminan dan (tak disangka - sangka) berakhir dengan perceraian. Data dari Pengadilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), pada kurun waktu di tahun 2010, terdapat sekitar 285.184 perkara perceraian, yang melonjak 81% dari tahun 2005.Penyebab perceraian pun bermacam-macam, mulai dari ketidakcocokan dalam berumah tangga, cemburu, keadaan financial, dan bahkan perbedaan ideologi dalam hidup berpolitik. Kisah Bunga hanya menjadi sedikit puncak gunung es yang terlihat di permukaan laut.
Institusi pernikahan merupakah suatu lembaga yang disakralkan di Indonesia, yang tercermin melalui ragam adat dan budaya yang harus ditaati ketika melaksanakan sebuah resepsi. Konon, persiapan haruslah melalui  penyelidikan terhadap pasangan oleh keluarga besar (semacam Fit & Proper Test CaGub BI kali ya..),  finansial, waktu, dan bahkan belakangan, ketersediaan gedung juga ikut berperan. Pada beberapa pasangan lain, salah satu bentuk persiapan adalah dengan membuka rekening tabungan atas nama bersama untuk biaya resepsi pernikahan, kemudian menyewa jasa EO untuk membantu persiapan, berburu gedung, menemui peramal untuk menghitung hari baik, hingga kemudian busana yang akan dikenakan. Luar biasa meriah, luar biasa sibuk, dan luar biasa melelahkan. Semua focus dan konsentrasi dicurahkan untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan peristiwa ini. Konon katanya, bahkan tingkat konsentrasi pelaksanaan resepsi pernikahan lebih tinggi dibandingkan tingkat konsentrasi pelaksanaan Pemilu di Indonesia (yang nyata-nyata menentukan hajat hidup ratusan juta orang). Tetapi apakah arti dari semua keriaan, kesibukan, kebahagiaan tersebut bila kemudian harus ada yang namanya perceraian, harus ada sebuah titik akhir?
Bila kita memutuskan membeli sebuah kendaraan, pasti terlebih dahulu kita melakukan pembandingan terhadap beberapa kriteria jenis kendaraan pilihan kita, bahkan selalu memaksakan test drive terlebih dahulu sebelum akhirnya melakukan pembayaran. Sebandingkah uang ratusan juta rupiah yang digelontorkan dengan manfaat yang didapat? Apakah kendaraan tersebut mampu mendukung fungsionalitas harian sang pemilik, atau malah memberatkan dan menjadi sumber masalah baru? Apakah harga jual kembalinya masih kompetitif dengan harga pasar? Karena itu, seorang calon pemilik, pasti akan berpikir taktis dan sistematis sebelum menjatuhkan pilihan terhadap jenis kendaraan yang akan dibeli. Kalau kita sedemikiaan taktis dan sistematis dalam hal memilih dan membeli kendaraan, mengapa kita tidak demikian dalam memilih dan menikahi pasangan? Bagaimana bila hal serupa juga dilakukan dalam sebuah hubungan sebelum mencapai tahap pernikahan (pembayaran uang muka cicilan pembelian kendaraan)?
Tentu saja sulit mengaplikasikan teknik serupa dalam hal pernikahan, karena budaya kita yang mencap buruk samen wonen atau samen leven atau tinggal bersama atau kumpul kebo. (Apa salah kebo?) Padahal, kita selalu menuntut untuk mencoba dulu untuk item yang kita beli. Bahkan lampu saja selalu kita test untuk memastikan produk tersebut tidak cacat dan berfungsi. Mengapa tidak dicoba terlebih dahulu untuk tinggal bersama dengan calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikahinya?
Seperti apakah sifat asli seseorang tentu sangat mustahil untuk dapat diketahui dari puluhan kali waktu pergi berdua atau bersama keluarga atau beramai-ramai . Sebagai gambaran, kita sendiri ketika pergi keluar dari rumah, selalu perlu beberapa waktu untuk menentukan jenis pakaian, corak dan warnanya, bahkan sepatu yang sesuai dengan baju yang dikenakan. Ini berarti, kita sendiri selalu menampilkan suatu kemasan untuk membungkus diri dan kemudian dijual ke masyarakat. Lalu bagaimana pasangan kita bisa mengetahui siapa kita, hanya dengan kencan di malam minggu, bila kita sendiri kemudian sedari keluar rumah sudah berusaha menutupinya?
Oleh karenanya, sudahlah seharusnya dalam urutan tangga kebahagiaan hidup berpasangan, tinggal bersama sebelum memutuskan untuk menikah menjadi suatu kewajiban tersendiri. Biarlah kita memberikan pasangan kita kesempatan untuk menilai seperti apa aslinya diri kita, tanpa pembungkus atau tanpa pencitraan apapun sehingga dengan demikian, kita bisa menghindarkan munculnya banyak Bunga yang lain.
Bila benar pernikahan adalah sakral untuk kita, bagaimana kalau kita coba memulai untuk menjaga kesakralan tersebut dengan berpikir lebih cerdas sebelum memutuskan melakukan pernikahan. Uji cobalah terlebih dahulu, tinggalah bersama pasangan kita, cobalah nikmati hidup, dan bila berhasil, barulah menikah. Hanya dengan cara ini, kita dapat menekan angka perceraian, yang berimbas dengan kesungguhan niat kita menjaga kesakralan makna dan lembaga pernikahan.

Selasa, 30 Agustus 2011

Why you shouldn’t participate in voluntourism

Spending a hundred dollars in an impoverished community painting the inside of a school is never developmental, no matter what the voluntourism coordinator told you

Development starts with supporting what services and materials the community can provide already, not destroying local initiative by bringing in tools, materials and skills that are currently available

Putting the power of the free market to efficiently satisfy demands together with narcissistic fantasies of helping the impoverished is a recipe for disaster.

Source:
http://matadornetwork.com/change/why-you-shouldnt-participate-in-voluntourism/

Jumat, 26 Agustus 2011

Dilemma!

Hidup adalah sebuah antrian di loket. cepat atau lambat, akan tiba giliranmu. Kamu tidak akan pernah bisa menghindarinya, atau bahkan menolaknya.

Seperti bila hendak menonton di XXI atau Blitz!, yg diawalin dgn mengantri, tetapi ketika sudah di depan loket, sudah harus siap dgn judul film yg hendak disaksikan dan waktu penayangan yang diinginkan.
Selalu siap pula dgn kemungkinan bahwa posisi tempat duduk yang paling nyaman telah terisi, atau studio telah penuh.

Itulah hidup, siap atau tidak akan tiba giliranmu untuk memutuskan sesuatu yang diinginkan, beserta dgn segala konsekuensi dari pilihannya..

Mengapa Wanita Harus Menikahi seorang Engineer?

Mengapa Anda harus menikah dengan seorang Engineer Let me tell you mengapa gadis akhirnya harus menikah Engineer daripada lulusan Hukum, Manajemen, Arts(seni) atau Kedokteran. Engineer memiliki tiga keunggulan berbeda dibandingkan lulusan lainnya.


Advantage 1: gaya hidup Aman


Pacar Engineer dapat menyediakan Anda dengan gaya hidup aman. Pada 27 tahun, seorang Engineer mungkin memiliki pekerjaan, terhormat stabil yang memberikan dia penghasilan yang tinggi untuk memiliki mobil, berinvestasi, memiliki kehidupan yang nyaman, dan menikah dan membeli rumah juga.


lulusan Hukum masih bekerja sebagai magang di firma hukum rendah.


Sebagian besar lulusan manajemen baru saja gagal pada rencana bisnis pertama mereka.


Para lulusan seni masih mencari pekerjaan.


Dan lulusan sekolah kedokteran masih tinggal di rumah sakit.


Advantage 2: Unmatchable industriousness


Pacar Engineer akan mendedikasikan sejumlah waktu dan usaha untuk mengerti Anda. Engineer benar-benar bekerja sangat keras untuk memahami pekerjaan mereka. Anda dapat percaya bahwa mereka benar-benar akan berusaha sangat keras untuk mengerti wanita juga, seperti bagaimana mereka memahami pekerjaan mereka, sekali mereka percaya bahwa Anda adalah pasangan yg tepat untuknya. Jadi, walaupun mereka tidak mengerti awalnya, mereka akan terus berusaha. Bahkan jika mereka masih tidak mengerti, mereka akan mengetahui metode yang tepat untuk membuat Anda senang (misalnya cincin berlian membeli = bernilai 1 minggu kebahagiaan) Dan. Begitu mereka mengetahui formula rahasianya, mereka hanya akan terus mengulanginya sehingga hasil yang diinginkan muncul.


Tidak seperti Pengacara yang akan berdebat dengan Anda.


Sarjana Manajemen yang akan mencoba untuk mengendalikan pengeluaran Anda, Sarjana Seni Rupa akan merubah banyak “perubahan” diri anda.


Dan lulusan sekolah kedokteran yang akan mengoperasi Anda.


Dan apakah kau tahu?, bahwa itu benar-benar sangat mudah untuk membuat Engineer percaya bahwa Anda adalah pasangan yg tepat baginya. Katakan bahwa Anda seperti salah satu proyek mereka dan mereka akan menjadi ketagihan kepada Anda selamanya.


Advantage 3: Seorang pacar Engineer tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Anda.

Mari pertama-tama saya memberi tahu Anda apa yang salah dengan lulusan yang lain.


Para pengacara akan berbohong tentang segala sesuatu.


lulusan Manajemen akan menipu uang Anda.


Para lulusan seni akan main mata, dan Anda mungkin hanya terlihat seperti mayat lain untuk lulusan sekolah kedokteran.


pacar Engineer Anda terlalu sibuk untuk berselingkuh, dan bahkan jika ia tidak berselingkuh, dia terlalu bodoh untuk berbohong kepada Anda tentang itu. Oleh karena itu, seorang Engineer adalah pacar yang paling aman yang pernah Anda akan temukan - cukup kaya, akan terus berusaha untuk memahami dan menyenangkan Anda, tidak memiliki waktu untuk berselingkuh, dan terlalu bodoh untuk berbohong kepada Anda. plus mereka lebih keren dibandingkan yang lain bukan?

Selasa, 23 Agustus 2011

User Manual: Life.

This is some old post I found on facebook.. About user manual about life.. Well, someone has been caught for selling iPad without its user manual. Hope you won't get caught for having life without a user manual.. ;) enjoy..



When you were born, you didn't come with an owner's manual; these guidelines make life work better.
1. You will receive a body. You may like it or hate it, but it's the only thing you are sure to keep for the rest of your life.

2. You will learn lessons. You are enrolled in a full-time informal school called "Life on Planet Earth". Every person or incident is the Universal Teacher.

3. There are no mistakes, only lessons. Growth is a process of experimentation. "Failures" are as much a part of the process as "success."

4. A lesson is repeated until learned. It is presented to you in various forms until you learn it -- then you can go on to the next lesson.

5. If you don't learn easy lessons, they get harder. External problems are a precise reflection of your internal state. When you clear inner obstructions, your outside world changes. Pain is how the universe gets your attention.

6. You will know you've learned a lesson when your actions change. Wisdom is practice. A little of something is better than a lot of nothing.

7. "There" is no better than "here". When your "there" becomes a "here" you will simply obtain another "there" that again looks better than "here."

8. Others are only mirrors of you. You cannot love or hate something about another unless it reflects something you love or hate in yourself.

9. Your life is up to you. Life provides the canvas; you do the painting. Take charge of your life -- or someone else will.

10. You always get what you want. Your subconscious rightfully determines what energies, experiences, and people you attract -- therefore, the only foolproof way to know what you want is to see what you have. There are no victims, only students.

11. There is no right or wrong, but there are consequences. Moralizing doesn't help. Judgments only hold the patterns in place. Just do your best.

12. Your answers lie inside you. Children need guidance from others; as we mature, we trust our hearts, where the Laws of Spirit are written. You know more than you have heard or read or been told. All you need to do is to look, listen, and trust.

13. You will forget all this.

14. You can remember any time you wish.

(From the book "If Life is a Game, These are the Rules" by Cherie Carter-Scott; Credit to Stephanie BT.. )