Jumat, 31 Agustus 2012

Setelah pacaran, siap menikah?


... Bunga (nama samaran) sedang berbahagia setelah Jaka menembaknya semalam. “Inilah mimpi menjadi kenyataan. Jaka itu pria idaman wanita, mapan, tampan, dan memiliki simpanan”, Bunga berbincang dalam hati tentang betapa beruntungnya dia. Singkat cerita, setelah beberapa puluh kali mereka pergi berdua di akhir pecan, akhirnya Jaka melamar Bunga dan meminta dia untuk menikahinya. Sontak, seluruh keluarga larut dalam kebahagiaan. Wanita dalam keluarga mereka akan menikah dengan seorang pria idaman yang mendekati sempurna. Dan kemudian pernikahan itu berlangsung dengan diiringi kebahagiaan kedua insan dan keluarga besar...
(Itu adalah akhir dari seluruh kisah baik novel, film fiksi, maupun film kartun di dunia ini tentang bagaimana kisah hidup seorang wanita)
... Jaka ternyata adalah seorang pemalas dan berjiwa kerdil. Ia tidak pernah mau mengerjakan seluruh urusan rumah tangga. Pun bila Bunga salah, ia tidak segan untuk memarahinya seakan – akan dunia mau runtuh nanti jam 4 sore.  Upik Abu yang menjadi seorang Putri untuk beberapa tahun tersebut mendapati bahwa dirinya kembali menjadi Upik Abu hanya saja dalam balutan gaun yang mewah.  Ia kehilangan gairah hidupnya, dan hingga suatu saat karena didorong rasa frustasi, akhirnya mengajukan tuntutan perceraian kepada Jaka. Bunga seakan terbangun dari sebuah mimpi aneh membuat dia memandang sang calon mantan bukan lagi sebagai pria idaman, melainkan pria ampasan ...

Cerita itu memang hanya fiksi tetapi juga dapat menggambarkan hubungan berpasangan di Jakarta. Kisah tentang lelaki dan wanita yang dimabuk asmara memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke pelaminan dan (tak disangka - sangka) berakhir dengan perceraian. Data dari Pengadilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), pada kurun waktu di tahun 2010, terdapat sekitar 285.184 perkara perceraian, yang melonjak 81% dari tahun 2005.Penyebab perceraian pun bermacam-macam, mulai dari ketidakcocokan dalam berumah tangga, cemburu, keadaan financial, dan bahkan perbedaan ideologi dalam hidup berpolitik. Kisah Bunga hanya menjadi sedikit puncak gunung es yang terlihat di permukaan laut.
Institusi pernikahan merupakah suatu lembaga yang disakralkan di Indonesia, yang tercermin melalui ragam adat dan budaya yang harus ditaati ketika melaksanakan sebuah resepsi. Konon, persiapan haruslah melalui  penyelidikan terhadap pasangan oleh keluarga besar (semacam Fit & Proper Test CaGub BI kali ya..),  finansial, waktu, dan bahkan belakangan, ketersediaan gedung juga ikut berperan. Pada beberapa pasangan lain, salah satu bentuk persiapan adalah dengan membuka rekening tabungan atas nama bersama untuk biaya resepsi pernikahan, kemudian menyewa jasa EO untuk membantu persiapan, berburu gedung, menemui peramal untuk menghitung hari baik, hingga kemudian busana yang akan dikenakan. Luar biasa meriah, luar biasa sibuk, dan luar biasa melelahkan. Semua focus dan konsentrasi dicurahkan untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan peristiwa ini. Konon katanya, bahkan tingkat konsentrasi pelaksanaan resepsi pernikahan lebih tinggi dibandingkan tingkat konsentrasi pelaksanaan Pemilu di Indonesia (yang nyata-nyata menentukan hajat hidup ratusan juta orang). Tetapi apakah arti dari semua keriaan, kesibukan, kebahagiaan tersebut bila kemudian harus ada yang namanya perceraian, harus ada sebuah titik akhir?
Bila kita memutuskan membeli sebuah kendaraan, pasti terlebih dahulu kita melakukan pembandingan terhadap beberapa kriteria jenis kendaraan pilihan kita, bahkan selalu memaksakan test drive terlebih dahulu sebelum akhirnya melakukan pembayaran. Sebandingkah uang ratusan juta rupiah yang digelontorkan dengan manfaat yang didapat? Apakah kendaraan tersebut mampu mendukung fungsionalitas harian sang pemilik, atau malah memberatkan dan menjadi sumber masalah baru? Apakah harga jual kembalinya masih kompetitif dengan harga pasar? Karena itu, seorang calon pemilik, pasti akan berpikir taktis dan sistematis sebelum menjatuhkan pilihan terhadap jenis kendaraan yang akan dibeli. Kalau kita sedemikiaan taktis dan sistematis dalam hal memilih dan membeli kendaraan, mengapa kita tidak demikian dalam memilih dan menikahi pasangan? Bagaimana bila hal serupa juga dilakukan dalam sebuah hubungan sebelum mencapai tahap pernikahan (pembayaran uang muka cicilan pembelian kendaraan)?
Tentu saja sulit mengaplikasikan teknik serupa dalam hal pernikahan, karena budaya kita yang mencap buruk samen wonen atau samen leven atau tinggal bersama atau kumpul kebo. (Apa salah kebo?) Padahal, kita selalu menuntut untuk mencoba dulu untuk item yang kita beli. Bahkan lampu saja selalu kita test untuk memastikan produk tersebut tidak cacat dan berfungsi. Mengapa tidak dicoba terlebih dahulu untuk tinggal bersama dengan calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikahinya?
Seperti apakah sifat asli seseorang tentu sangat mustahil untuk dapat diketahui dari puluhan kali waktu pergi berdua atau bersama keluarga atau beramai-ramai . Sebagai gambaran, kita sendiri ketika pergi keluar dari rumah, selalu perlu beberapa waktu untuk menentukan jenis pakaian, corak dan warnanya, bahkan sepatu yang sesuai dengan baju yang dikenakan. Ini berarti, kita sendiri selalu menampilkan suatu kemasan untuk membungkus diri dan kemudian dijual ke masyarakat. Lalu bagaimana pasangan kita bisa mengetahui siapa kita, hanya dengan kencan di malam minggu, bila kita sendiri kemudian sedari keluar rumah sudah berusaha menutupinya?
Oleh karenanya, sudahlah seharusnya dalam urutan tangga kebahagiaan hidup berpasangan, tinggal bersama sebelum memutuskan untuk menikah menjadi suatu kewajiban tersendiri. Biarlah kita memberikan pasangan kita kesempatan untuk menilai seperti apa aslinya diri kita, tanpa pembungkus atau tanpa pencitraan apapun sehingga dengan demikian, kita bisa menghindarkan munculnya banyak Bunga yang lain.
Bila benar pernikahan adalah sakral untuk kita, bagaimana kalau kita coba memulai untuk menjaga kesakralan tersebut dengan berpikir lebih cerdas sebelum memutuskan melakukan pernikahan. Uji cobalah terlebih dahulu, tinggalah bersama pasangan kita, cobalah nikmati hidup, dan bila berhasil, barulah menikah. Hanya dengan cara ini, kita dapat menekan angka perceraian, yang berimbas dengan kesungguhan niat kita menjaga kesakralan makna dan lembaga pernikahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar